Bukan, bukan jomblo alligator a.k.a. buaya darat. Agregator itu … pengagregat :). Agregat itu, menurut definisi sebuah buku Komunikasi, adalah kumpulan yang tidak harus satu tipe, berbeda dengan group yang umumnya memiliki kesamaan karakteristik. Agregator itu layanan web yang membacai feed berbagai content web (berita, blog, gambar — semua yang memiliki feed), dan menyajikannya kepada kita sebagai satu halaman. Tujuannya adalah memudahkan dan mempersingkat waktu membaca content yang kita butuhkan atau kita favoriti. Agregator yang cukup sering disebut di Indonesia adalah Planet Terasi, yang merupakan agregasi blog teknolog, incl technojunk (meeeee). Beberapa CMS telah disiapkan untuk agregasi, termasuk CMS Planet (in Python), Gregarius (in PHP), dan beberapa plugin WordPress. Layanan seperti Tumblr dan Jaiku juga memungkinkan kita membuat semacam agregator, biarpun kelihatannya ownernya tak terlalu suka kita gunakan layanan mereka hanya sebagai agregator.
Buat kaum pemalas (ogah mengadmini terlalu banyak) dan kikir (ogah membuang dana terlalu banyak) seperti kita … mmm … ganti dulu. Buat profesional keren nan efisien waktu dan biaya semacam kita … ganti lagi deh. Ya, pokoknya buat yang semacam itu, kita bisa berkenalan dengan Jumbler. Ini adalah agregator yang secara dasar tak memerlukan webhosting; tetapi bisa juga ditampilkan dari web kita, dan bisa juga dikostumisasi sekehendak kita.
TKP: feedjumbler.com
Sebelum ke mana2, coba cari Create Account dulu. Buat account baru di sana. Ini akan berguna untuk mengedit agregator kita nantinya. Setelah selesai membuat account, kita menuju ke form ini:

Di sini kita dapat menuliskan judul agregator dan mengisi daftar feed yang akan kita agregasikan di bawahnya, sebanyak2nya. Trus, klik pada tombol Go. Selesai. Sederhana kan?
Tapi tunggu. Alamat feed itu yang mana? Wah, sorry :). OK, umumnya web yang dikelola dengan CMS menyediakan feed, sehingga web itu bisa dibaca dengan feed reader, termasuk agregator. Web semacam ini ditandai dengan lambang feed pada address bar, seperti ini:
. Jika kita klik pada ikon ini, kita akan dibawa ke feed dari web itu, dengan alamat feed yang terpampang pada address bar. Nah alamat feed ini (termasuk protokolnya: http://) bisa disalin ke form Jumbler itu. Contoh:

Dan hasilnya:

Agregator telah selesai dibuat. Kita memperoleh alamat dengan angka acak. Klik pada alamat teratas.

Nah, kita memperoleh seperangkat alamat. Versi HTML dari agregator kita dilink di alamat di atas. Juga, agregator kita ini sendiri memiliki feed (feed of feeds jadinya), yang bisa dibaca dari agregator atau feed reader lain, misalnya dari RSS widget di WordPress kita. Contohnya ada di kanan web ini, di bawah judul Ctty Koen.
Alamat feed RSS: http://feedjumbler.com/77aacc4b/rss.xml
Parameter di bawah digunakan untuk memodifikasi display. Misalnya untuk menampilkan hanya 10 entry terakhir:
http://feedjumbler.com/77aacc4b/rss.xml?numentries=10
Atau menampilkan judul saja, tanpa tanggal:
http://feedjumbler.com/77aacc4b/rss.xml?headonly=1&datestyle=2
Sila dicoba, tetapi dengan angka yang diberikan Jumbler untuk agregator Anda sendiri; bukan 77aacc4b (duh mengandung AAC lagi — sebel). Versi Javascript bisa digunakan untuk dipasang di Web kita. Web statik tanpa server-side coding (PHP dll) dan database sudah cukup. Scriptnya:
<script language=”javascript” type=”text/javascript” src=”http://feedjumbler.com/77aacc4b/javascript.js”></script>
Parameter di atas juga bisa digunakan untuk script ini:
<script language=”javascript” type=”text/javascript” src=”http://feedjumbler.com/77aacc4b/javascript.js?numentries=10″></script>
Buat contoh hasilnya, saya memasang agregator rekan2 blogger Telkom di alamat ini:
Jika kita kunjungi web ini, ruas kiri berisi hasil dari ‘headonly’ dan ruas kanan dari tanpa ‘headonly’ :). Web statik ini juga memiliki feed, yang tentu saja diambil dari RSS yang disediakan Jumbler sendiri. Caranya? Ah, intip saja pagesourcenya :).
Server dan semua titik di Internet sebenarnya dialamati hanya dengan angka, yang disebut alamat IP. Alamat IP ini dianggap tak praktis. Bukan saja karena tak semua orang mau menghafal angka, tetapi terutama karena alamat ini dapat berubah, misalnya waktu site kita dipindah antar server, dll. Jadi digunakanlah domain yang berupa teks yang lebih mudah dihafal (biarpun tak selalu mudah, thanks to cyberslanks). Nah, pemetaan dari domain ke alamat IP ini menggunakan DNS. Waktu kita membeli domain, kita harus juga menyetel DNS. DNS yang ini adalah DNS yang menunjukkan ke pengakses domain kita, di mana alamat IP yang sesuai dengan domain kita. Adegan 1: